Banner Iklan

Responsive Ads Here

Sunday, 7 September 2014

Pertemuan Kedua (Perbedaan CISC,RISC, GPU, wiFi Type AC, UTP Cat 7 dan Datasheet Cisco Switch layer 2/3)



Perbedaan antara RISC DAN CISC
       RISC
SPARC dan UltraSPARC dari Sun Microsystems, serta PA-RISC dari Hewlett-Packard. Selain RISC, desain Central Processing Unit yang lain adalah CISC (Complex
2 KB (213 kata) - 6 April 2013 07.21
       CISC
dan penyimpanan ke dalam memory, semuanya sekaligus hanya di dalam sebuah instruksi. Karakteristik CISC dapat dikatakan bertolak-belakang dengan RISC
3 KB (462 kata) - 20 Oktober 2013 03.43
       Arsitektur komputer
arsitektur von Neumann, CISC, RISC, blue Gene, dll. Arsitektur komputer juga dapat didefinisikan dan dikategorikan sebagai ilmu dan sekaligus seni mengenai
1 KB (148 kata) - 5 April 2013 13.29

       Pentium
walaupun Pentium merupakan prosesor yang bersifat CISC, Pentium dapat bekerja seperti layaknya prosesor RISC, meskipun pada saat itu belum ada aplikasi yang
6 KB (842 kata) - 16 Juni 2014 06.33
       Set instruksi
(DEC Alpha) ARM (Acorn RISC Machine) (Advanced RISC Machine now ARM Ltd) IA-64 (Itanium/Itanium 2) MIPS Motorola 68k PA-RISC (HP Precision Architecture)
4 KB (549 kata) - 10 Oktober 2013 14.16
       Pengendali mikro
disimpulkan bahwa CISC mempunyai instruksi lebih banyak daripada RISC. Akan tetapi RISC mempunyai fasilitas internal lebih banyak daripada CISC. Hingga Mei
6 KB (900 kata) - 27 Maret 2014 17.56
       Pentium III
yang diperluas dengan instruksi RISC seperti Pentium Pro. Adapun sebenarnya prosesor x86 adalah prosesor berinstruksi CISC. Pada masanya, prosesor ini sempat
4 KB (566 kata) - 23 September 2013 12.46
       VGA
masih menggunakan modus VGA karena didukung oleh banyak produsen monitor dan kartu grafis. Video Graphics Array (VGA) ini biasa dinamakan juga dengan
11 KB (1.701 kata) - 14 Juli 2014 08.22
       Superskalar
dengan satu prosesor. Superscalar dapat diaplikasikan di RISC dan CISC, tapi pada umumnya RISC. [1] Peristiwa menarik yang bisa dilakukan dengan metoda
4 KB (566 kata) - 4 April 2013 10.22
       Prosesor vektor
instruksinya beroperasi pada item data tunggal. Meskipun prosesor Intel dan klon mereka dirancang awalnya sebagai skalar, model baru berisi peningkatan
558 B (76 kata) - 6 April 2013 04.54


Penjelasan GPU (Graphic Prosessing Unit)
            Unit pemroses grafis atau Graphics processing unit atau GPU (atau biasa juga disebut visual processing unit atau VPU) adalah sebuah prossesor khusus untuk untuk bagian grafis 3D dari microprocessor. Alat ini digunakan di sistem benam, telepon genggam, komputer pribadi, workstation, dan konsol game. GPU Moderen sangat efisien dalam memanipulasi komputer grafis dan struktur paralel, membuatnya lebih efektif dari fungsi umum CPU yang digunakan untuk bebagai perhitungan alogaritma. Pada komputer pribadi (PC), GPU biasanya terdapat di video card atau di motherboard. Lebih dari komputer desktop dan notebook mempunyai GPU yang terintegrasi, yang biasanya jauh daripada yang ada di video card.

            Akhir-akhir ini perkembangan teknologi semakin cepat dan berubah, salah satunya ialah CPU dan GPU komputer,  jika ingin tahu perbedaan CPU dan GPU mulai dari pengertian CPU dan GPU itu sendiri, cara kerjanya, serta fungsi dari CPU dan GPU komputer itu sendiri.  adapun singkatan dari CPU ialah Central Processing Unit sedangkan GPU ialah Graphics Processing Unit.
1)    Pengertian dan Prinsip Kerja CPU dengan GPU
CPU adalah kependekan dari Central Processing Unit merupakan device terpenting dalam sebuah komputer, boleh disebut bahwa CPU merupakan otak dari komputer. CPU memiliki tugas utama yaitu untuk mengolah data berdasarkan instruksi dan datadari software.Secara fisik, CPU terlihat dengan ditandai dengan adanya heatsink dan kipas yang bertugas mendinginkankannya. CPU umumnya terpasang secara on-board ,atau terintegrasi dengan motherboard CPU umum disebut dengan posessor.
Sedangkan GPU adalah kependekan dari Graphics Processing Unit adalah prossesor yang bertugas secara khusus untuk mengolah tampilan grafik. Dalam perkembangannya, GPU hingga saat ini sudah semakin kompleks dan semakin tinggi speknya sehingga mendukung untuk menampilkan grafik terbaik pada Game game saat ini.
Pada Graphic Chard/add-on (VGA) GPU terdapat pada chip yang dikenal dengan merk seperti Radeon, GeForce dll. Secara fisik anda akan melihat device ini dengan ditandainya terdapatnya heatsink (pendingin), bahkan kipas dan terlihat menempel pada sebuah rangkian tersendiri (chip) yang menancap pada motherboard. Sedangkan integrated graphics, GPU-nya biasanya tidak berupa chip tersendiri, namun sudah menjadi satu dengan motherboard.

2)    Cara Kerja CPU dan GPU
Cara Kerja CPU
Fungsi utama CPU adalah menjalankan perintah dari program-program(software) yang tersimpan di dalam memori utama. CPU melakukannya dengan cara mengambil instruksi-instruksi dari memori utama dan mengeksekusinya satu persatu sesuai dengan alur perintah. Pekerjaan ini dilakukan dalam dua tahapan yaitu membaca instruksi (fetch) dan melaksanakan instruksi tersebut (execute). Proses membaca dan melaksankan ini dilakukan berulang-ulang sampai semua instruksi yang terdapat di memori utama dijalankan atau komputer dimatikan. Proses ini dikenal juga sebagai siklus fetch-eksekusi.

Saat data dan/atau instruksi dimasukkan ke processing-devices, pertama sekali diletakkan di MAA (melalui Input-storage); apabila berbentuk instruksi ditampung oleh Control Unit di Program-storage, namun apabila berbentuk data ditampung di Working-storage). Jika register siap untuk menerima pengerjaan eksekusi, maka Control Unit akan mengambil instruksi dari Program-storage untuk ditampungkan ke Instruction Register, sedangkan alamat memori yang berisikan instruksi tersebut ditampung di Program Counter. Sedangkan data diambil oleh Control Unit dari Working-storage untuk ditampung di General-purpose register (dalam hal ini diOperand-register).
Jika berdasar instruksi pengerjaan yang dilakukan adalah arithmatika dan logika, maka ALU akan mengambil alih operasi untuk mengerjakan berdasar instruksi yang ditetapkan. Hasilnya ditampung di Akumulator. Apabila hasil pengolahan telah selesai, maka Control Unit akan mengambil hasil pengolahan di Accumulator untuk ditampung kembali ke Working-storage. Jika pengerjaan keseluruhan telah selesai, maka Control Unit akan menjemput hasil pengolahan dari Working-storage untuk ditampung ke Output-storage. Lalu selanjutnya dari Output-storage, hasil pengolahan akan ditampilkan ke output-devices.

Cara Kerja GPU
Sebuah graphics card modern umumnya terdiri dari lima komponen, yaitu system interface, memori, graphics prosesor (GPU), frame buffer dan RAMDAC (Random Accsess Memory Digital / Analog Converter). System interface berkaitan langsung dengan motherboard. Saat ini, standarnya adalah PCI-Express, Raw data dimuat ke dalam graphics memory, yang berfungsi sebagai graphics objek dan texture memory. Umumnya, berkapasitas antara 256 MB dan 1.024 MB. Selanjutnya dara tersebut dibaca oleh Graphics Prosessor Unit (GPU) utuk melakukan kalkulasi terhadap semua posisi (koordinat), gerakan dan permukaan objek dari seuatu 3D scane. Hasilnya diperuntukkan untuk output gambar. Gambar yang telah selesai selanjutnya dikirim ke frame buffer. Dari sana, gambar dikirim lagi ke RAMDAC yang akan mengubah informasi digital menjadi output gambar analog untuk ditampilkan ke monitor VGA atau menajdi output digital untuk ditampilkan melalui interface DVI,HDMI, atau DisplayPort.

Pada tugas-tugas tertentu, misalnya simulasi data-data keuangan, kinerja graphics card bahkan 150 kali lebih cepat dari CPU. Kondisi ini dimungkinkan karena Shader fleksibelnya pada GPU terbaru yang dapat diprogram bebas. Dengan demikian, graphics chip-nya bisa dipakai sebagai General Purpose GPU ( GP GPU, Multi Purpose GPU).
Keuntungan performa yang diperoleh ternyata cukup besar. GT200 memiliki performa hingga 933 GFLOP (FLOP: Floating Point Operations Per Second), sedangkan RV770 bisa mencapai 1.200 GFLOP. Sebagai perbandingan, performa Core 2 Quad Q6600 hanya mencapai 21.4 GFLOP. Memang, tidak semua program dapat berjalan parallel sehingga sebuah CPU menjadi pilihan lebih baik untuk menyelesaikan tugas-tugas umum. Namun, untuk kalkulasi spesifik, misalnya simulasi, sebuah GPU bisa jauh lebih unggul dari kebannyakan CPU.
Selama ini, implementasi program yang seperti itu cukup sulit. Dengan CUDA (Compute Unified Device Architecture), nVidia menawarkan sebuah lingkungan pemrograman untuk bahasa C dqan C++. Dengan CUDA, dapat dikembangkan aplikasi dengan kemampuan kalkulasi parallel yang tinggi dan dijalankan pada GPU. ATI meluncurkan proyek yang sejenis dengan nama CTM (Close to the Metal). Namun,tanpa kenyataan dukungan pemrograman C++.
Namun, dibandingkan dengan sebuah CPU, sebuah GPU memiliki kekurangan terbesar. Floating Point (FP) number GPU hanya dapat diproses dengan akurasi satu kali, yaitu 32 bit. Proses yang rumit dengan intermediate data yang besar membutuhkan akurasi ganda, dalam hal ini 64 bit. ATI dan nVidia telah merespon tuntutan ini dan sedang berusaha agar GPU terbaru mereka juga menawarkan tingkat akurasi yang lebih untuk operasi Floating Point.

3)    Kesimpulan
CPU dan GPU adalah sama sama sebuah device yang bernama  prosessor.Bedanya,GPU adalah prosessornya graphics yang hanya bertugas mengolah data grafis,sedangkan CPU adalah prosessor dari keseluruhan Komputer yang bertugas mengolah data dan perintah dari  keseluruhan komputer.
Untuk CPU terdapat memory penyimpanan sementara yang disebut dengan RAM, sedangkan pada GPU juga terdapat memory penyimpanan sementara yang disebut dengan VRAM.
Referensi (Daftar Pustaka)
       http://id.wikipedia.org/wiki/Unit_Pemroses_Sentral
       http://majalahhibrida.blogspot.com/2011/04/cara-kerja-vga-gpu-modern.html
       http://www.spiderbeat.com/2012/09/perbedaan-cpu-dan-gpu.html


Jenis-Jenis Wireless

Meskipun Ethernet digunakan secara luas, ada teknologi lain yang bersaing dengannya yaitu wireless LAN. Wireless LAN semakin populer dan semakin banyak gedung perkantoran, bandara, dan tempat-tempat umum yang lain sedang dilengkapi dengan wireless LAN. Wireless LAN dapat beroperasi dengan satu dari dua konfigurasi, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.53 dan Gambar 3.54, dengan base station (access point) dan tanpa base station. Akibatnya, standar LAN 802.11 mempertimbangkan hal ini dan membuat ketentuan untuk kedua konfigurasi.
 
Gambar 3.58 Jaringan wireless dengan Access Point
 
Gambar 3.59 Jaringan wireless tanpa access point (ad-hoc)
Protokol yang digunakan oleh semua varian 802, termasuk Ethernet, memiliki kesamaan tertentu dalam struktur. Tampilan parsial stack protokol 802.11 diberikan pada Gambar 3.55. Lapisan fisik sesuai dengan physical layer OSI cukup baik, tapi data link layer di semua protokol 802 dibagi menjadi dua atau lebih sublayers. Dalam 802.11, MAC (Medium Access Control) sublayer menentukan bagaimana channel dialokasikan, yaitu siapa yang mendapat giliran untuk mengirimkan frame berikutnya. Di atasnya adalah LLC (Logical Link Control) sublayer, yang tugasnya adalah untuk menyembunyikan perbedaan antara varian 802 yang berbeda dan membuat mereka tidak dapat dibedakan sampai lapisan jaringan yang bersangkutan (logical link control).
 
Gambar 3.60 Stack protokol wireless 802.11
Ada lima teknik modulasi transmisi wireless yang diizinkan yang memungkinkan untuk mengirim frame MAC dari satu host ke host yang lain. Masing-masing teknik berbeda dalam teknologi yang digunakan dan kecepatan yang dapat dicapai.
Sinar Infrared menggunakan teknk penyebaran (tidak saling berhadapan) transmisi pada panjang gelombang 0.85 atau 0.95 mikron. Dua kecepatan yang diijinkan : 1 Mbps dan 2 Mbps. Pada kecepatan 1 Mbps, skema encoding yang digunakan adalah ada sekelompok 4-bit yang dikodekan sebagai codeword 16-bit yang mengandung lima belas bit 0 dan satu bit 1, teknik ni disebut Gray code. Kode ini memiliki properti sedit kesalahan kecil dalam sinkronisasi waktu tertentu yang dapat menyebabkan hanya satu bit error pada output. Pada kecepatan 2 Mbps, encoding menggunakan 2-bit dan menghasilkan codeword 4-bit, juga dengan hanya satu bit 1, membentuk salah satu dari 0001, 0010, 0100, atau 1000. Sinyal inframerah tidak dapat menembus dinding, sehingga sel-sel di ruangan yang berbeda dapat terisolasi dengan baik satu sama lain. Namun demikian, karena bandwidth rendah (dan fakta bahwa matahari juga mempunyai sinar infrared) maka infrared bukan pilihan yang populer.
FHSS (Frequency Hopping Spread Spectrum) menggunakan 79 channel, masing-masing channel lebarnya 1 MHz, dimulai pada ujung rendah dari band ISM (Industrial, Scientific dan Medical) 2.4 GHz. Sebuah pseudorandom number generator digunakan untuk menghasilkan urutan frekuensi lompatan. Asalkan semua stasiun menggunakan awalan yang sama untuk nomor pseudorandom generator dan tetap disinkronkan dengan waktu maka mereka akan melompat ke frekuensi yang sama secara simultan. Jumlah waktu yang dihabiskan di masing-masing frekuensi, waktu diam adalah parameter yang dapat diatur, tetapi harus kurang dari 400 msec. Pengacakan FHSS ‘menyediakan cara yang adil untuk mengalokasikan spektrum di band ISM yang tidak diregulasi. Hal ini ini juga memberikan sedikit porsi keamanan karena intruder yang tidak tahu urutan hopping atau waktu diam tidak bisa menyadap transmisi. Lebih jauh lagi, multipath fading bisa menjadi masalah, dan FHSS menawarkan ketahanan yang baik terhadap masalah itu. FHSS juga relatif tidak sensitif terhadap gangguan radio, yang membuatnya populer untuk membuat hubungan antar bangunan. Kerugian utamanya adalah bandwidth rendah.
Metode modulasi ketiga adalah DSSS (Direct Sequence Spread Spectrum), juga dibatasi untuk 1 atau 2 Mbps. Skema yang digunakan memiliki beberapa kesamaan dengan sistem CDMA, tetapi berbeda pada cara yang lain. Setiap bit ditransmisikan sebagai 11 chip, dengan menggunakan apa yang disebut Barker sequence. Menggunakan phase shift modulation pada 1 Mbaud, transmisi 1 bit per baud ketika beroperasi pada 1 Mbps dan 2 bit per baud ketika beroperasi pada 2 Mbps. Selama bertahun-tahun, FCC diperlukan oleh semua operasi peralatan komunikasi nirkabel pada pita ISM di Amerika Serikat dengan menggunakan spread spectrum, tetapi pada bulan Mei 2002, aturan ini dihapus karena munculnya teknologi baru.
Jaringan LAN nirkabel pertama yang berkecepatan tinggi adalah 802.11a, menggunakan OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) untuk mengirimkan sampai dengan 54 Mbps pada pita ISM yang lebih lebar pada frekuensi 5-GHz. Sebagaimana istilah FDM, ada 52 frekuensi berbeda yang digunakan : 48 untuk data dan 4 untuk sinkronisasi, tidak seperti ADSL. Karena transmisi menggunakan cara munculnya frekuensi beberapa pada saat yang sama, teknik ini dipandang sebagai bentuk spread spectrum, tetapi berbeda disbanding CDMA dan FHSS. Memisahkan sinyal menjadi band sempit memiliki beberapa keunggulan dibanding menggunakan band lebar tetapi tunggal, termasuk imunitas yang lebih baik untuk gangguan narrowband dan kemungkinan menggunakan band noncontinuous. Sebuah sistem enkoding yang kompleks digunakan, berdasarkan phase shift modulation untuk kecepatan hingga 18 Mbps dan QAM. Pada kecepatan 54 Mbps, 216 bit data dikodekan menjadi simbol 288-bit. Motivasi OFDM adalah kompatibilitas dengan sistem European HiperLAN/2. Teknik ini memiliki efisiensi spektrum yang baik dalam hal bit/Hz dan kekebalan yang baik untuk multipath fading.
Teknik berikutnya adalah HR-DSSS (High Rate Direct Sequence Spread Spectrum), teknik spread spectrum yang lain, menggunakan 11 juta chip/detik untuk mencapai 11 Mbps dalam band 2.4 GHz. Teknik ini disebut 802.11b tapi bukan kelanjutan dari 802.11a. Bahkan, standar ini lebih dahulu disetujui pertama dan lebih cepat sampai ke pasar. Data rates yang didukung oleh 802.11b adalah 1, 2, 5.5, dan 11 Mbps. Dua data rate yang lebih rendah berjalan pada 1 Mbaud masing-masing dengan 1 dan 2 bit per baud, dengan menggunakan phase shift modulation untuk kompatibilitas dengan DSSS. Dua data rate yang lebih tinggi berjalan pada 1375 Mbaud masing-masing dengan 4 dan 8 bit per baud, dengan menggunakan kode Walsh/Hadamard. Data rate dapat secara dinamis disesuaikan selama operasi untuk mencapai kecepatan optimal yang dimungkinkan dalam kondisi yang ada pada beban dan noise. Dalam prakteknya, kecepatan operasi dari 802.11b hampir selalu 11 Mbps. Walaupun 802.11b lebih lambat dari 802.11a, jangkauannya sekitar 7 kali lebih besar, dalam banyak situasi hal ini menjadi lebih penting.
Peningkatan versi 802.11b adalah 802.11g, yang telah disetujui oleh IEEE pada bulan November 2001 setelah banyak yang berpolitik bahwa dengan patennya teknologi itu, maka akan segera digunakan. Versi ini menggunakan metode modulasi OFDM dari 802.11a tetapi beroperasi dalam band sempit di ISM 2.4 GHz bersama dengan 802.11b. Secara teori itu dapat beroperasi sampai dengan 54 Mbps. Masih belum jelas apakah kecepatan ini akan terwujud dalam praktek. Ini berarti bahwa komite 802.11 telah menghasilkan tiga LAN nirkabel berbeda dengan kecepatan tinggi : 802.11a, 802.11b, dan 802.11g dengan radius jangkauan sekitar 100 meter.
Wireless 802.11b/g beroperasi pada pita frekuensi 2400 MHz sampai 2483.50 MHz. Dengan mengijinkan operasi dalam 11 channel (masing-masing 5 MHz), berpusat di frekuensi berikut:
  • Channel 1 – 2,412 MHz
  • Channel 2 – 2,417 MHz
  • Channel 3 – 2,422 MHz
  • Channel 4 – 2,427 MHz
  • Channel 5 – 2,432 MHz
  • Channel 6 – 2,437 MHz
  • Channel 7 – 2,442 MHz
  • Channel 8 – 2,447 MHz
  • Channel 9 – 2,452 MHz
  • Channel 10 – 2,457 MHz
  • Channel 11 – 2,462 MHz
Wireless 802.11n
IEEE 802.11n-2009 adalah sebuah perubahan standar jaringan nirkabel 802.11-2.007 IEEE untuk meningkatkan throughput lebih dari standar sebelumnya, seperti 802.11b dan 802.11g, dengan peningkatan data rate maksimum dalam lapisan fisik OSI (PHY) dari 54 Mbps ke maksimum 600 Mbps dengan menggunakan empat ruang aliran di  lebar channel 40 MHz. Sejak tahun 2007, Wi-Fi Alliance telah memberikan sertifikat interoperabilitas produk “draft-n”  berdasarkan pada draft 2.0 dari spesifikasi IEEE 802.11n. Aliansi telah meningkatkan perangkat ini dengan tes kompatibilitas untuk beberapa perangkat tambahan yang diselesaikan setelah Draft 2.0 . Lebih jauh lagi, telah ditegaskan bahwa semua produk bersertifikat draft-n tetap kompatibel dengan produk-produk standar terakhir.
IEEE 802.11n didasarkan pada standar 802.11 sebelumnya dengan menambahkan multiple-input multiple-output (MIMO) dan 40 MHz ke lapisan saluran fisik (PHY), dan frame agregasi ke MAC layer. MIMO adalah teknologi yang menggunakan beberapa antena untuk menyelesaikan informasi lebih lanjut secara koheren daripada menggunakan satu antena. Dua manfaat penting MIMO adalah menyediakan keragaman antenna dan spasial multiplexing untuk 802.11n. Kemampuan lain teknologi MIMO adalah menyediakan Spatial Division Multiplexing (SDM). SDM secara spasial me-multiplexes beberapa stream data independen, ditransfer secara serentak dalam satu  saluran spektral bandwidth. MIMO SDM dapat meningkatkan throughput data seperti jumlah dari pemecahan stream  data spatial yang ditingkatkan. Setiap aliran spasial membutuhkan antena yang terpisah baik pada pemancar dan penerima. Di samping itu, teknologi MIMO memerlukan rantai frekuensi radio yang terpisah dan analog-ke-digital converter untuk masing-masing antena MIMO yang merubah biaya pelaksanaan menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan sistem non-MIMO.  Saluran 40 MHz adalah fitur lain yang dimasukkan ke dalam 802.11n yang menggandakan lebar saluran dari 20 MHz di 802.11 PHY sebelumnya untuk mengirimkan data. Hal ini memungkinkan untuk penggandaan kecepatan data PHY melebihi satu saluran 20 MHz. Hal ini dapat diaktifkan di 5 GHz mode, atau dalam 2.4 GHz jika ada pengetahuan yang tidak akan mengganggu beberapa 802.11 lainnya atau sistem non-802.11 (seperti Bluetooth) menggunakan frekuensi yang sama. Arsitektur coupling MIMO dengan saluran bandwidth yang lebih luas menawarkan peningkatan fisik transfer rate melebihi 802.11a (5 GHz) dan 802.11g (2.4 GHz).
Kelebihan versi 802.11n dibanding 802.11 sebelumnya adalah :
  1. Mampu mentransfer data seperti di “jalan tol wireless” sehingga menghemat waktu dan lebih cepat.
  2. Terdapat kombinasi dua frekuensi wireless untuk performance yang lebih baik.
    Fitur memperkecil jumlah data yang dibutuhkan untuk transfer file untuk memberi ruang lebih di jalur pengiriman file.
  3. Wi-Fi 802.11n dapat mencapai kecepatan 600Mbps.
  4. Memberikan waktu lebih panjang untuk daya baterai karena chip 802.11n menggunakan power yang lebih sedikit.
  5. Jangkauan radius pemancar lebih luas, untuk indoor sekitar 70 meter, sedangkan outdoor sampai dengan 250 meter.
Tabel 3.18 Spesifikasi teknis 802.11
Protokol Rilis Operasi frekuensi Throughput umum Data rate maksimal Modulasi Jangkauan (indoor) Jangkauan (outdoor) Kompatibilitas
802.11a 1999 5 Ghz 23 Mbps 54 Mbps OFDM ~35 m ~120 m a
802.11b 1999 2.4 Ghz 4.3 Mbps 11 Mbps DSSS ~38 m ~140 m b
802.11g 2003 2.4 Ghz 19 Mbps 54 Mbps OFDM ~38 m ~140 m b, g
802.11n Juni 2009 2.4 Ghz 5 Ghz 74 Mbps 248 Mbps
~70 m ~250 m b, g, n
802.11y Juni 2008 3.7 Ghz 23 Mbps 54 Mbps
~50 m ~5 km
Catatan : 802.11y hanya diterapkan di Amerika Serikat.
Wireless 802.11ac
Wireless IEEE 802.11ac adalah standar nirkabel 802.11 yang saat ini sedang dikembangkan yang akan memberikan throughput yang sangat tinggi pada Wireless Local Area Network (WLAN) dengan frekuensi operasi di bawah 6 GHz (lazim dikenal sebagai band 5 GHz).
Secara teoritis, spesifikasi ini akan memungkinkan throughput multi-stasiun WLAN setidaknya 1 Gbps dan throughput link maksimum tunggal minimal 500 Mbps. Hal ini dilakukan dengan memperluas konsep interface udara yang dianut oleh 802.11n, bandwidth RF lebih lebar (sampai 160 MHz), lebih banyak spasial MIMO stream (hingga 8), MIMO multi-user, dan high-density modulation (hingga 256 QAM) .
Pada tanggal 20 Januari 2011, Spesifikasi Perdana Teknis Draft 0.1 telah dikonfirmasi oleh IEEE 802.11 TGac. Standar penyelesaian diharapkan dalam akhir tahun 2012, dengan persetujuan akhir 802.11 Working Group pada tahun 2013-an. Menurut penelitian, perangkat dengan spesifikasi 802.11ac diharapkan menjadi umum pada tahun 2015 dengan diperkirakan sebaran 1 miliar diseluruh dunia. Pada bulan April 2011, belum ada perangkat konsumen yang menerapkan spesifikasi draft. Diharapkan teknologi selesai dan siap digunakan pada bulan Desember 2012.
Beberapa teknologi baru yang ditanamkab pada 802.11ac :
  • Channel bandwidth lebih lebar
Channel bandwith 80 MHz dan 160 MHz (vs maksimum 40 MHz dalam 802.11n), 80 MHz wajib untuk stasiun, 160 MHz opsional
  • Lebih banyak spasial MIMO stream
Mendukung hingga 8 spasial stream (vs 4 dalam 802.11n)
  • Multi-user MIMO (MU-MIMO)
    • Multiple Stasiun, masing-masing dengan satu atau lebih banyak antena, mengirim atau menerima data stream independen secara simultan. “Space Division Multiple Access” (SDMA) : aliran tidak dipisahkan dengan frekuensi, tetapi diselesaikan secara spasial, analog dengan model MIMO 802.11n
    • Downlink MU-MIMO (satu perangkat pemancar, perangkat penerima ganda) yang termasuk sebagai modus opsional
  • Modulasi
256-QAM, rate 3/4 dan 5/6, ditambahkan sebagai mode opsional (vs 64-QAM, rate maksimum 5/6 802.11n)
  • Fitur lainnya
    • Single sounding dan feedback format untuk pembentukan beam (vs multiple dalam 802.11n)
    • Modifikasi MAC (kebanyakan untuk mendukung perubahan diatas)
    • Mekanisme koeksistensi untuk channel 20/40/80/160 MHz perangkat 11ac dan 11a/n perangkat

sumber : http://myteks.wordpress.com/2011/05/17/wireless-lan-802-11abgny-apa-bedanya/


Pengenalan Kabel UTP dan Kategorinya.
Konsep kerja mengukur performance cable UTP jaringan komputer Satuan “Signal” adalah suatu satuan standar dari frekuensi [ mhz ]. Begitu juga dengan kabel UTP, setiap kabel jaringan berfungsi menjadi media transmisi / media pengiriman signal dari suatu tujuan ke tujuan lain. Ketika suatu kabel jaringan akan diukur performance transmisi-nya, maka lan tester / lan analyzer akan mengirimkan suatu signal dengan satuan tertentu dari ujung kabel, dan pada ujung kabel yang lain, receiver pada lan tester akan menerima signal tersebut dan akan mengukur kapasitas satuan signal tersebut. Maka dengan alat tersebut kita dapat menganalisa kualitas kabel tersebut.
Berbagai kategori kabel jaringan komputer adalah : coaxial, UTP, Fiber Optic indoor, Fiber Optic Outdoor, Multiplek.
Pada article ini saya ingin mempersempit hanya kepada kabel UTP, kabel UTP yang terjual dipasaran pada umumnya terbagi dalam 3 kategori umum yang sering digunakan yaitu : cat5, cat5e, cat6, dan cat7.
Perbedaan dari masing-masing kategori :
kabel UTP cat5 : adalah kabel UTP dengan standar yang diciptakan pada tahun 2001 oleh TIA/EIA-568-B. Kabel UTP cat5 hanya dapat melakukan transmisi data sebesar 100 Mbit/s, kapasitas maksimum ini sama dengan kapasitas kemampuan ethernet dalam mengirimkan signal data 100BASE-TX [ era tahun 2001 ].
Seiring dengan bertambahnya kebutuhan akan kecepatan, maka telah dikembangkan kabel UTP cat5 ini menjadi kabel UTP cat5e.
Kabel UTP cat5e / cat5e 350Mhz: adalah kabel UTP yang telah ditingkatkan kemampuan menampung lebar data, maupun kemampuan mengirimkan data. Cat5e memiliki kemampuan speed maksimal 350 Mhz atau setara dengan 1 Gbit/s. Selain memiliki kemampuan speed 1Gbit/s, cat5e memiliki noise yang sangat kecil ketika mengirimkan data jika dibandingkan dengan cat5, hal ini dapat dilihat dengan minimnya waktu delay respon ketika mengirimkan data besar.
Kabel UTP cat6 / cat6e : adalah kabel premium yang di pasaran jauh lebih mahal dibandingkan dengan cat5e. Cat6 ini memiliki kemampuan waktu delay yang nyaris 0 [ nol ] ketika mengirimkan data, sekaligus memiliki kemampuan maksimal panjang kabel lebih dari 100 meter. Maksimal kabel cat6 adalah 200 meter dan maksimal lebar data adalah 10Gbit/s.
Kabel UTP cat7 / cat7e : adalah kabel premium yang sangat cocok sebagai media yang high traffic berbagai aplikasi dalam 1 kabel [ single cable ]. Maksimum data yang terkirim adalah 10 Gbit/s dengan frekuensi 1000 Mhz. Berdasarkan spectrum analyze tools, panjang kabel cat7 / cat7e sepanjang 50 meter mampu mengirimkan signal dan data sebesar 40 Gbit/s. Sedangkan untuk kabel cat7 / cat7e sepanjang 15 meter mampu mengirimkan signal dan data sebesar 100 Gbit/s.
spectrum
rj45pin
cat7sumber : http://herw1n.wordpress.com/2009/09/29/perbedaan-kabel-utp-cat5-cat5e-cat6-dan-cat7/


Cisco SM-X Layer 2/3 EtherSwitch Service Module

The Cisco® SM-X Layer2/3 EtherSwitch® Service Module dapat mengurangi total biaya kepemilikan perusahaan mu ( TCO) dengan pengintegrasian Gigabit Ethernet ( GE) di dalam Cisco 4451-X dan Cisco 3900 serta 2900 Rangkaian Mengintegrasikan Jasa Penerus (ISRS). Pengintegrasian ini mengijinkan pengurus jaringan untuk mengatur alat tunggal yang menggunakan Cisco manajemen perkakas atau penerus itu command-line alat penghubung Command Line Interface (CLI) untuk LAN dan kebutuhan manajemen . Pendekatan ini mengurangi kompleksitas jaringan, menurunkan kontrak perawatan biaya-biaya, mengurangi pelatihan karyawan jika diperlukan, menyederhanakan perangkat lunak dengan mudah, ketersediaan peningkatan, dan membuat seorang pemakai konsisten pada kantor cabang dan kantor pusat.

Product Overview
The Cisco SM-X Layer2/3 EtherSwitch Modules are an enterprise class line of switches in Cisco ISR extended service module form factor for the Cisco 2900 and 3900 Series and Cisco 4451-X ISRs. These Cisco EtherSwitch Service Modules (Figure 1) greatly expand the capabilities of the router by integrating industry-leading Layer 2 and Layer 3 switching with feature sets identical to those found in the Cisco Catalyst® 3560-X Series.
The new Cisco SM-X Layer2/3 EtherSwitch Service Modules take advantage of the increased capabilities on the Cisco Catalyst 3560-X Series Switches and provide scalability, security, energy efficiency, and ease of operation with innovative features such as Cisco TrustSec® and Media Access Control Security (MACsec) features. Additionally, these service modules enable Cisco's industry-leading power initiatives with IEEE 802.3at Power over Ethernet Plus (PoE+) configurations and per-port PoE power monitoring - all of which enhance the ability of the branch office to scale to next-generation requirements and still meet important initiatives for IT teams to operate a power efficient network. Furthermore, the Cisco Enhanced EtherSwitch Service Modules not only perform local line-rate switching and routing but also support direct service module-to-service module communication through the Integrated Services Routers Generation 2 (ISR G2) Multigigabit Fabric (MGF), which separates LAN traffic from WAN resources.
Because the Cisco SM-X Layer2/3 EtherSwitch Service Modules support the same feature sets as the Cisco Catalyst 3560-X Switches, you can provide a ubiquitous configuration at headquarters and at the branch office to create a consistent experience throughout your network.
Figure 1. Cisco SM-X EtherSwitch Service Modules
Description: http://www.cisco.com/c/dam/en/us/products/collateral/routers/4400-series-integrated-services-routers-isr/datasheet-c78-730357.doc/_jcr_content/renditions/datasheet-c78-730357_0.jpg
Cisco SM-X Layer2/3 EtherSwitch Service Module Software
In addition to IP Base and IP Services feature sets, the Cisco SM-X Layer2/3 EtherSwitch Modules come with a new LAN Base feature set. The three feature sets available with all Cisco SM-X EtherSwitch Modules follow:
● LAN Base: Enterprise access Layer 2 switching features
● IP Base: Baseline enterprise access Layer 3 switching features
● IP Services: Advanced Layer 3 switching (IPv4 and IPv6) features
The LAN Base feature set includes comprehensive Layer 2 features, with up to 255 VLANs. The IP Base feature set provides baseline enterprise services in addition to all LAN Base features, with 1000 VLANs. IP Base also includes support for routed access and MACsec. The IP Services feature set provides full enterprise services that include advanced Layer 3 features such as Enhanced Interior Gateway Routing Protocol (EIGRP), Open Shortest Path First (OSPF), Border Gateway Protocol (BGP), Protocol Independent Multicast (PIM), and IPv6 routing such as OSPFv3 and EIGRPv6. All software feature sets support advanced security, quality of service (QoS), and management features.
Cisco SM-X Layer2/3 EtherSwitch Service Modules support a “Right to Use” license to upgrade the license. For more details, please visit: http://www.cisco.com/en/US/docs/switches/lan/catalyst3750x_3560x/software/release/12.2_53_se/configuration/notes/ol19813.html#wp44153.
Features and Benefits
Architecture Features and Benefits
The Cisco SM-X Layer2/3 EtherSwitch Service Module helps ensure maximum availability, high performance, ease of upgrade, and expandability. The modules have their own processors, switching engines, and flash memory that run independently of host router resources, helping ensure maximum concurrent switching and routing performance as well as providing integrated PoE+, security, and increased ease of management. Additionally, Cisco SM-X EtherSwitch Service Modules run their own Cisco IOS® Software, independent of the router Cisco IOS Software image, allowing for easy upgrades and ongoing software and feature commonality with Cisco Catalyst 3560-X Series Switches. Table 1 lists some of the features and benefits of this architecture.
When inserted within a Cisco 2900 or 3900 Series or Cisco 4451-X Integrated Services Router, the Cisco SM-X EtherSwitch Service Modules provide a fully integrated, secure networking and converged IP communications solution. From a single platform with an integrated switch, you can connect IP phones, wireless access points, and IP-based video cameras to your network and power them using the IEEE 802.3af or IEEE 802.3at PoE+. With the optional integration of Cisco Unified Communications Manager Express, the router can also provide call processing for the phones.
As users attempt network access through the Cisco Enhanced EtherSwitch Service Module, the module can use IEEE 802.1x and a large number of Cisco 802.1x extensions to validate the credentials of the end device and place the user in the appropriate VLAN or Cisco TrustSec group. As the end-user data traverses between the switch module and other network entities or between buildings, this traffic can be encrypted at Layer 2 using MACsec.
Table 1. How Cisco SM-X EtherSwitch Service Module Addresses Customer Needs
Customer Needs
How Addressed by Cisco Enhanced EtherSwitch Service Module
Green IT
● Cisco EnergyWise ® technology
● Single power supply for Cisco EtherSwitch device and router
● Cisco EnergyWise technology enables Cisco EtherSwitch devices to automatically reduce off-peak use of PoE.
● The modules offer two to eight times lower power consumption than standalone switches.
● Because no additional rack space or power supply is needed, there is less to rack, stack, and cool.
Total TCO
● Scaling network infrastructure across multiple sites
● Increasing costs of operating multiple devices at the branch office
● Maximizing IT resources
● An integrated switch solution lowers operating costs, simplifies troubleshooting, and enables businesses to scale.
● Cisco Catalyst 3560-X software parity enables IT to certify and deploy the same services at the main office and branch office.
● The modules offer lower mean time to repair (MTTR). One vendor means one support center to decrease troubleshooting time and eliminate finger pointing among vendors.
● Cisco SMARTnet ® support covers both integrated services routers and Cisco EtherSwitch devices.
Investment Protection
● Ensuring compatibility of your network with future networks to deliver leading technology
● The Cisco SM-X EtherSwitch Service Module and Cisco Catalyst 3560-X features, schedule, and roadmap are aligned to provide a consistent user experience and to help ensure no new hardware is required to support the latest innovations.
High Availability
● Minimizing downtime that affects business operations
● Cisco SM-X EtherSwitch Service Modules run their own Cisco IOS Software images and can be upgraded independent of the host router image.
● A single-box solution simplifies remote management and improves services interoperability to help ensure the highest reliability for all users.
● End-to-end testing for standards-based and innovative Cisco proprietary features provides superior services interoperability and excellent value.
● The modules will use the optional redundant power supplies in Cisco ISRs, including an integrated redundant power system (RPS) on the Cisco 4451-X and Cisco 3900 Series and external Cisco Redundant Power System 2300 (RPS 2300) support on the Cisco 2911 through Cisco 2951 ISRs.
● Fewer components (for example, power supplies and fans) results in fewer failures and less downtime.
● Mean Time Between Failure (MTBF) is at least twice as high as that for a standalone switch.
Scalability with High-Performance IP Routing for the LAN (IP Base and IP Services)
● Isolation of LAN traffic and route between VLANs on the Cisco SM-X EtherSwitch Service Module
● Cisco Express Forwarding hardware routing architecture delivers extremely high-performance IP routing and promotes scalability.
● The modules offer inter-VLAN IP routing with full local Layer 3 switching between two or more VLANs.
● Traffic can be forwarded between service modules over the MGF without affecting the router CPU.
Advanced PoE Support
PoE removes the need for wall power to each PoE-enabled device and eliminates the cost for additional electrical cabling and circuits that would otherwise be necessary in IP phone and wireless LAN (WLAN) deployments.
Although PoE has been employed for more than a decade, it is still an evolving technology. New and innovative applications continue to raise expectations for power requirements.
IEEE 802.3at Power over Ethernet
In addition to 802.3af PoE, the Cisco Enhanced EtherSwitch Service Modules support PoE+ (IEEE 802.3at standard), which provides up to 30W of power per port. The Cisco SM-X EtherSwitch Service Modules can thereby provide a lower TCO for deployments that incorporate Cisco IP Phones, Cisco Aironet® wireless LAN access points, or any IEEE 802.3af-compliant end device.
PoE+ enabled ports can, in addition to PoE+ 30W, also be used to deliver power for current PoE and enhanced ePoE solutions.
Table 2 gives information about total PoE power output. Depending on the Cisco 2900, 3900, or 4451-X router model, the available PoE power ranges from 200 to 1014 watts. Additional PoE features include the following:
● Per-port power consumption control allows you to specify a maximum power setting on an individual port.
● Per-port PoE power sensing measures the actual power being drawn, enabling more intelligent control of powered devices.
● The Cisco PoE MIBs provide proactive visibility into power usage and allow you to set different power-level thresholds.
● Cisco Discovery Protocol Version 2 allows the Cisco SM-X EtherSwitch Service Modules to negotiate a more granular power setting than IEEE classification provides when connecting to a Cisco powered device such as IP phones or access points.
● The Link Layer Discovery Protocol Media Endpoint Discovery (LLDP-MED) link layer discovery protocol and MIB enable interoperability in multivendor networks. Switches exchange speed, duplex, and power settings with end devices such as IP phones.
Power over Ethernet requires the PoE versions of the router power supplies (See Table 3.). The Cisco 2900, 3900, and 4451-X routers support multiple PoE powering modes:
● Normal: One PoE power supply.
● Redundant: Two PoE internal power supplies (Cisco 4451-X and Cisco 3900 Series) or one PoE power supply plus an external Cisco RPS 2300 Redundant Power Supply Unit (Cisco 2911, 2921, and 2951), where one is active and one is standby.
● Boost: Two PoE internal power supplies (Cisco 4451-X and Cisco 3900 Series) or one PoE power supply plus an external Cisco RPS 2300 (Cisco 2900), where both are actively supplying PoE power; redundancy will not be supported in this mode because both power supplies are in active use simultaneously.
Table 2. Power Output
Router
Normal PoE with Single PoE Power Supply (Watts)
Maximum Number of Ports Running at 15.4W in Normal Mode
Maximum Number of Ports Running at 30W in Normal Mode
Maximum Power with Dual PoE Supplies in Boost Mode (Watts)
Maximum Number of Ports Running at 15.4W in Boost Mode
Maximum Number of Ports Running at 30W in Boost Mode
Cisco 4451-X
500
32
16
1000
64
33
Cisco 3900 Series
520
33
16
1040
65
34
Cisco 2951
370
24
12
750
48
25
Cisco 2921
280
18
9
750
48
25
Cisco 2911
200
12
6
750
48
24
Table 3. Power Supply Models
16-, 24-, and 48-Port Cisco EtherSwitch Module
No PoE
PoE
(No Redundancy Required)
PoE
(Redundancy Required)
PoE Boost Mode
(No Redundancy Required)
Cisco 4451-X
PWR-4450-AC
PWR-4450-POE-AC
2 x PWR-4450-POE-AC
2 x PWR-4450-POE-AC
Cisco 3900 Series
PWR-3900-AC/DC
PWR-3900-POE
2 x PWR-3900-AC/DC
2 x PWR-3900-AC/DC
Cisco 2921 and 2951
PWR-2921-51-AC/DC
PWR-2921-51-POE
PWR-2921-51-AC/DC + PWR-RPS2300
PWR-2921-51-AC/DC + PWR-RPS2300
Cisco 2911
PWR-2911-AC/DC
PWR-2911-POE
PWR-2911-AC/DC+ PWR-RPS2300
PWR-2911-AC/DC+ PWR-RPS2300
Secure Networking
Because security needs to be embedded throughout the network, routers and Cisco EtherSwitch devices play a critical role in any network defense strategy. Cisco SM-X EtherSwitch Service Modules provide a rich set of security features and can be a crucial component of your secure network strategy. The modules support a comprehensive set of security features for connectivity and access control, including ACLs, authentication, and port-level security, identity-based network services with 802.1x and Cisco TrustSec security, and switch-to-switch encryption with MACsec.
This set of comprehensive features not only helps prevent external attacks, but also defends the network against "man-in-the-middle" attacks, a primary concern in today's business environment. Table 4 highlights the benefits of the Cisco SM-X EtherSwitch Service Module security features.
Table 4. Security Features of Cisco SM-X EtherSwitch Service Module
Feature
Benefit
Dynamic ARP Inspection (DAI)
● DAI helps ensure user integrity by preventing malicious users from exploiting the insecure nature of the Address Resolution Protocol (ARP).
DHCP Snooping
● This feature prevents malicious users from spoofing a Dynamic Host Configuration Protocol (DHCP) server and sending out bogus addresses. Other primary security features use DHCP Snooping to prevent numerous other attacks such as ARP poisoning.
IP Source Guard
● IP Source Guard prevents a malicious user from spoofing or taking over another user's IP address by creating a binding table between the client's IP and MAC address, port, and VLAN.
Private VLANs
● Private VLANs restrict traffic between hosts in a common segment by segregating traffic at Layer 2, turning a broadcast segment into a nonbroadcast multiaccess-like segment.
● Private VLAN Edge provides security and isolation between switch ports, helping ensure that users cannot snoop on other users' traffic.
● These features are available in the IP Base and IP Services license levels.
Unicast Reverse Path Forwarding (URPF)
● This feature helps mitigate problems caused by the introduction of malformed or forged (spoofed) IP source addresses into a network by discarding IP packets that lack a verifiable IP source address.
● This feature is available in the IP Base and IP Services license levels only.
IEEE 802.1x
● IEEE 802.1x allows dynamic, port-based security, providing user authentication.
● IEEE 802.1x with VLAN assignment allows a dynamic VLAN assignment for a specific user regardless of where the user is connected.
● IEEE 802.1x with voice VLAN permits an IP phone to access the voice VLAN irrespective of the authorized or unauthorized state of the port.
● IEEE 802.1x and port security are provided to authenticate the port and manage network access for all MAC addresses, including that of the client.
● IEEE 802.1x with an ACL assignment allows for specific identity-based security policies regardless of where the user is connected.
● IEEE 802.1x with guest VLAN allows guests without 802.1x clients to have limited network access on the guest VLAN.
● Web authentication for non-802.1x clients allows non-802.1x clients to use an SSL-based browser for authentication.
Cisco TrustSec security
● Cisco TrustSec classification and policy enforcement functions are embedded in the Cisco Enhanced EtherSwitch Service Modules.
● Cisco TrustSec security simplifies the provisioning and management of secure access to network services and applications by classifying traffic based on the contextual identity of the endpoint versus its IP address. It enables more flexible access controls for dynamic networking environments.
● Cisco TrustSec security defines policies using logical policy groupings, so secure access is consistently maintained even as resources are moved in mobile and virtualized networks. De-coupling access entitlements from IP addresses allows common access policies to be applied to wired, wireless, and VPN access consistently.
MACsec
● Exceptional security with integrated hardware support for MACsec is defined in IEEE 802.1AE. MACsec provides MAC layer encryption over wired networks using out-of-band methods for encryption keying.
● The MACsec Key Agreement (MKA) Protocol provides the required session keys and manages the keys required for encryption when configured. MKA and MACsec are implemented following successful authentication using the 802.1x Extensible Authentication Protocol (EAP) framework.
● In Cisco Enhanced EtherSwitch Service Modules, both the user and down-link ports (links between the switch and endpoint devices such as a PC or IP phone) as well as the network and up-link ports can be secured using MACsec.
● With MACsec you can encrypt switch-to-switch links such as access to distribution, or encrypt dark fiber links within a building or between buildings.
Multidomain authentication
● Multidomain authentication allows an IP phone and a PC to authenticate on the same switch port while placing them on the appropriate voice and data VLAN.
MAC Authentication Bypass (MAB)
● MAB for voice allows third-party IP phones without an 802.1x supplicant to get authenticated using the MAC address.
● This feature is available in the IP Base and IP Services license levels only.
Advanced ACLs
● Cisco security VLAN ACLs on all VLANs prevent unauthorized data flows from being bridged within VLANs.
● This feature is available in the IP Base and IP Services license levels only.
● Cisco standard and extended IP Security router ACLs define security policies on routed interfaces for control- and data-plane traffic. IPv6 ACLs can be applied to filter IPv6 traffic.
● This feature is available in the IP Base and IP Services license levels only.
● Port-based ACLs for Layer 2 interfaces allow security policies to be applied on individual switch ports.
Administrative traffic protection
● Secure Shell (SSH) Protocol, Kerberos, and Simple Network Management Protocol Version 3 (SNMPv3) provide network security by encrypting administrator traffic during Telnet and SNMP sessions. SSH, Kerberos, and the cryptographic version of SNMPv3 require a special cryptographic software image because of U.S. export restrictions.
● Some of these features are available in the IP Base and IP Services license levels only.
Switched Port Analyzer (SPAN)
● Bidirectional data support on the SPAN port allows the Cisco Intrusion Detection System (IDS) to take action when an intruder is detected.
Centralized authentication
● TACACS+ and RADIUS authentication facilitates centralized control of the switch and restricts unauthorized users from altering the configuration.
MAC address authentication
● MAC address notification allows administrators to be notified of users added to or removed from the network.
Port security
● Port security secures the access to an access or trunk port based on MAC address.
Console security
● Multilevel security on console access prevents unauthorized users from altering the switch configuration.
Bridge Protocol Data Unit (BPDU) Guard
● BPDU guard shuts down Spanning Tree PortFast-enabled interfaces when BPDUs are received to avoid accidental topology loops.
Spanning-Tree Root Guard
● This feature prevents edge devices not in the network administrator's control from becoming Spanning Tree Protocol root nodes.
Internet Group Management Protocol (IGMP) Filtering
● IGMP filtering provides multicast authentication by filtering out nonsubscribers and limits the number of concurrent multicast streams available per port.
Dynamic VLAN Assignment
● Dynamic VLAN assignment is supported through implementation of VLAN Membership Policy Server client capability to provide flexibility in assigning ports to VLANs. Dynamic VLAN facilitates the fast assignment of IP addresses.
Summary
Cisco SM-X Layer2/3 EtherSwitch Service Modules enable a higher level of control and security with the introduction of Cisco TrustSec security and MACsec. Cisco TrustSec security provides more scalable and advanced authentication of users, whereas MACsec introduces automatic encryption of switch-to-switch traffic. Cisco SM-X EtherSwitch Service Modules also offer enhanced PoE power levels with the introduction of IEEE 802.3at PoE+, broadening the span of network equipment powered from the switch.
By minimizing operating expenses (OpEx) without sacrificing any advanced switching features, Cisco SM-X EtherSwitch Service Modules can help you maximize your return on investment (ROI) for the network infrastructure and accelerate the deployment of productivity-enhancing services to your enterprise branch offices or small to midsize business offices.
Product Specifications
Table 5 gives specifications of the Cisco SM-X EtherSwitch Service Modules. Please note that all Gigabit Ethernet ports support 10/100/1000 Mbps.
Table 5. Product Specifications
Model
Gigabit Ethernet Ports
Layer 2 Switching
Layer 2/3 Switching
PoE/PoE+
Service Module Width
SM-X-ES3-24-P
24
LAN Base
IP Base
X
Single
SM-X-ES3-16-P
16
LAN Base
IP Base
X
Single
SM-X-ES3D-48-P
48
LAN Base
IP Base
X
Double
Table 6 outlines the number of Cisco SM-X EtherSwitch Service Modules supported per platform. Traffic between modules is switched by the router MGF switch. Each module has a 1-Gbps-per-second link to the MGF.
You can mix and match modules. The numbers in the following tables do not include onboard Ethernet ports or Ethernet ports available on eventual high-speed WAN interface card (HWIC), enhanced HWIC (EHWIC), or network interface module (NIM) modules.
Table 6. Module Support
Model
Maximum No. of Ports Using Service Modules
One Single
One Double
Two Single
One Single + One Double
Two Single + One Double
Three Single
Four Single
Cisco 4451-X
50
X
X
X




Cisco 3945
98
X
X
X
X
X
X
X
Cisco 3925
74
X
X
X
X



Cisco 2951
50
X
X
X




Cisco 2921
50
X
X





Cisco 2911
24
X






Software Support
Table 7 details the minimum software needed for Cisco SM-X EtherSwitch support, as well as the default software license. Cisco SM-X EtherSwitch Service Modules are supported in all technology packages.
Table 7. Cisco IOS Software Release Module Support
Model
Default Software
Minimum Cisco EtherSwitch Release
Minimum Cisco IOS M&T Software Release
Minimum Router Cisco IOS XE Software Release
SM-X-ES3-24-P
LAN Base
15.0(2)EJ
15.3(3)M
3.10
SM-X-ES3-16-P
LAN Base
15.0(2)EJ
15.3(3)M
3.10
SM-X-ES3D-48-P
LAN Base
15.0(2)EJ1
15.4(1)T
3.11
Physical and Environmental Specifications
Table 8 gives product specifications.
Table 8. Module Specifications
Model
Dimensions: Wide x Deep x High (cm)
Weight (kg)
Operational Temperature
Nonoperational Temperature
Operational Humidity
Nonoperational Humidity
SM-X-ES3-24-P
20.6 x 20.7 x 4.0
0.9
0 to 40°C
-20 to 65°C
5 to 85%
5 to 95%
SM-X-ES3-16-P
20.6 x 20.7 x 4.0
0.9
0 to 40°C
-20 to 65°C
5 to 85%
5 to 95%
SM-X-ES3D-48-P
41.2 x 20.7 x 4.0
2.08
0 to 40°C
-20 to 65°C
5 to 85%
5 to 95%
Regulatory Compliance, Safety, EMC, Telecommunications, and Network Homologation
When installed in a Cisco 2900 or 3900 Series or Cisco 4451-X ISR, the Cisco EtherSwitch Service Module does not change the standards (regulatory compliance, safety, EMC, telecom, or network homologation) of the router itself. For more information about these routers, please visit:
Ordering Information
Table 9 provides ordering information for Cisco EtherSwitch Service Modules. To place an order, visit the Cisco Ordering Home Page.
Table 9. Ordering Information
Part Number
Description
SM-X-ES3-24-P
SM-X EtherSwitch SM, Layer 2/3 switching, 24 ports Gigabit GE, POE+ capable
SM-X-ES3-16-P
SM-X EtherSwitch SM, Layer 2/3 switching, 16 ports GE, POE+ capable
SM-X-ES3D-48-P
SM-X EtherSwitch SM, Layer 2/3 switching, 48 ports Gigabit GE, 2 ports Small Form factor Pluggable (SFP), POE+ capable
Step One: License Product ID
Step 2: Choose Upgrade License Product ID
Product Number and Description
Product Number
Product Description
C3560X-LIC=
(License Product ID for SM-X EtherSwitch Modules)
SM-X EtherSwitch LAN Base to IP Base
C3560X-16-L-S
SM-X-ES3-16-P LAN Base to IP Base Paper License

C3560X-24-L-S
SM-X-ES3-24-P LAN Base to IP Base Paper License

C3560X-48-L-S
SM-X-ES3D-48-P LAN Base to IP Base Paper License

SM-X EtherSwitch LAN Base to IP Service

C3560X-16-L-E
SM-X-ES3-16-P LAN Base to IP Service Paper License

C3560X-24-L-E
SM-X-ES3-24-P LAN Base to IP Service Paper License

C3560X-48-L-E
SM-X-ES3D-48-P LAN Base to IP Service Paper License

SM-X EtherSwitch IP Base to IP Service

C3560X-16-S-E
SM-X-ES3-16-P IP Base to IP Service Paper License

C3560X-24-S-E
SM-X-ES3-24-P IP Base to IP Service Paper License

C3560X-48-S-E
SM-X-ES3D-48-P IP Base to IP Service Paper License
Cisco and Partner Services for the Branch Office
Services from Cisco and our certified partners can help you transform the branch-office experience and accelerate business innovation and growth in the Borderless Network. We have the depth and breadth of expertise to create a clear, replicable, optimized branch-office footprint across technologies. Planning and design services align technology with business goals and can increase the accuracy, speed, and efficiency of deployment. Technical services help improve operational efficiency, save money, and mitigate risk. Optimization services are designed to continuously improve performance and help your team succeed with new technologies.
For More Information
This document describes information about Cisco EtherSwitch Service Modules only. For more information about these modules, contact your local Cisco account representative.
For more information regarding software features, please consult the Cisco Catalyst 3560-X webpages at: http://www.cisco.com/en/US/products/ps10744/index.html.

For more information about Cisco 2900 and 3900 Series and Cisco 4451-X Integrated Services Routers, please visit: http://www.cisco.com/en/US/products/ps10906/Products_Sub_Category_Home.html.

No comments:

Post a Comment