Banner Iklan

Responsive Ads Here

Saturday, 20 March 2010

Pak Jenggot Tersangka Pembunuh Harimau Sumatera

Pekanbaru - Umurnya sudah 92 tahun dan terkesan ringkih, tetapi reputasinya membuat kita berdecak kagum. Pak Jenggot, lelaki tua itu, berani membunuh harimau seorang diri. Celakanya, ia membunuh harimau untuk diperdagangkan. Inilah yang yang membuatnya ditangkap.


LELAKI kurus itu, tertidur di atas bangku. Tubuhnya tampak renta dengan jenggot yang memutih. Usianya sudah menginjak 92 tahun dan terlihat seperti tak punya daya. Tapi siapa sangka dialah si penakluk harimau sumatera (panthera tigris sumatrae). Lewat tangan rentanya, diduga sudah puluhan ekor harimau sumatera yang mati, terkuliti dari tubuhnya, terpisah dari rangkanya, tercerai-berai dari tulangnya.

Lelaki itu bernama Wiryo bin Asmadi. Namun nama populernya adalah Pak Jenggot. Dia tertidur pulas, Jumat (19/3). Mungkin lelah karena baru saja sampai di Pekanbaru menjelang pagi. Dia dibawa oleh tim BBKSDA Seksi Wilayah I dari Kota Rengat pukul 01.00 WIB dini hari.

‘’Dia sedang tidur. Istirahat. Mungkin kelelahan. Dia sudah tua. Jadi kita biarkan tidur dulu, nanti siang baru diperiksa. Sesudah Jumat saja balik ke mari,’’ ungkap Refdi Azmi, Kasi Perlindungan BBKSDA Riau, di ruang kerjanya, sembari memperlihatkan pria renta itu tengah tertidur di atas jejeran kursi di ruang Kabid Teknis BBKSDA Riau.

Sekitar pukul 14.00 WIB, barulah Pak Jenggot bisa ditemui. Siang itu dia usai mandi. Kesan renta yang terlihat saat dia tidur tadi, tidak begitu terlihat. Gaya bicaranya cukup lugas. Terkesan cukup pintar menjawab sejumlah pertanyaan.

Lelaki itu mengaku lahir di Desa Tanjung Emas, Jawa Tengah, pada tanggal 27 Juli 1918.
Merantau ke Riau tahun 1960. Bergulat dengan harimau bukan hal baru baginya. Jerat-menjerat harimau juga sudah dilakoninya sejak muda. Keahlian itu dia dapat dari neneknya.

‘’Saat di Jawa dulu, saya juga menjadi jadi penangkap harimau. Tapi bedanya, harimau di Jawa menjeratnya pakai tali di gua. Kalau di sini dengan jerat,’’ ujarnya, sembari menceritakan untuk menangkap harimau-harimau itu gampang dan cukup dilakoni seorang diri.

Entah benar, entah tidak, tetapi ayah sebelas anak ini, mengaku pernah ke Amerika Serikat dan Jerman untuk menjadi penjinak harimau di kebun binatang kedua negara itu selama enam bulan pada tahun 1952. Dia juga menjadi pawang harimau di Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). ‘’Dulu saya kerja dengan Pak Yuyu (Yuyu Arlan, saat itu menjadi Direktur WWF di TNBT, red). Saya menandai jejak-jejak Harimau Sumatera,’’ ulasnya sembari menjelaskan sejumlah detail tugas-tugasnya di tempat itu.

Dengan gaya santainya, dia juga berkilah telah menjadi pembunuh puluhan harimau sumatera. ‘’Itu tidak benar. Itu hanya omongan mereka (tim BBKSDA Wilayah I yang menangkapnya,red). Waktu ditanya itu saya panik. Habis mereka minta obat ini-itu. Apalagi istri dan anak-anak saya tidak tahu kalau saya ditangkap. Tidak benar saya membunuh puluhan harimau. Ini baru pertama kali,’’ ujarnya dengan ekspresi serius mencoba meyakinkan.

Dia beralasan bahwa harimau yang ditangkap dan dikulitinya itu untuk mengamankan warga yang resah. ‘’Saya dapat informasi dari masyarakat pekebun karet kalau harimau itu sering melintas. Masyarakat resah dan terbukti ada dua ekor kambing tinggal kepalanya. Anjing dan tiga ekor ayam juga lenyap,’’ ujarnya sembari menyebutkan bahwa harimau yang sudah terpisah tulang-belulangnya itu ditangkapnya pada awal Maret lalu di Desa Pelor, Kecamatan Kuala Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu).

Meski mengaku membunuh harimau itu untuk mengamankan warga, tetapi dia mengaku juga kalau anggota tubuh harimau yang ditangkapnya dijual. Sedangkan daging harimau itu sendiri menurutnya dibagi-bagikan kepada warga untuk dikonsumsi ramai-ramai. ‘’Dari istri saya, saya dapat informasi ada pesanan dari Siswanto. Setelah bertemu dengan Siswanto dan harganya cocok, hari itu saya mengantarkan barang dan mengambil uang. Katanya yang membeli oknum Brimob,’’ tuturnya.

Itulah sebabnya saat didatangi petugas dia tidak menyangka akan ditangkap. ‘’Saya pikir itu Brimob seperti yang disampaikan Siswanto. Tetapi setelah dekat saya lihat baretnya beda. Saya baru tahu saya ditangkap,’’ ujarnya.

Ditanya tentang berapa harga anggota tubuh harimau yang akan dijualnya itu, pria ini membeberkan per kilogram tulang disepakatinya akan dibeli Siswanto Rp700 ribu. ‘’Berat tulangnya delapan kilo tiga mata. Panjang kulitnya dua meter 15 sentimeter. Kalau dijual komplit harganya Rp20 juta,’’ ulasnya.

Menyimak pengakuan Pak Jenggot sangat berbeda dengan laporan kejadian yang disampaikan oleh Kepala BBKSDA Wilayah I yang berkedudukan di Inhu, Edi Susanto, Jumat (19/3) malam. Menurut pria yang dihubungi lewat telepon seluler ini, Pak Jenggot itu dalam pengakuannya saat ditangkap telah menangkap puluhan harimau.

Di Kuala Cenaku saja, katanya, mencapai 20 ekor, belum lagi di Indragiri Hilir. ‘’Tidak benar kalau dia bilang itu yang pertama kali. Waktu kita tanya dalam suasana santai kemarin, dia mengaku kok. Biar saja dia berkelit. Toh kita punya banyak saksi. Penyidik nanti jeli kok melihat pengakuannya itu,’’ papar Edi.

Edi juga memastikan Pak Jenggot memang melakukan penjeratan harimau dengan motif untuk perdagangan. ‘’Kita menemukan bukti ada orderan di rumahnya. Kita sudah mengintainya selama dua hari. Kita sengaja awalnya membiarkan dulu. Supaya bisa menangkap pembelinya. Tetapi barang bukti bergerak terus. Kami khawatir barang itu hilang, makanya kita tangkap,’’ ujar Edi.

Edi juga memastikan, tidak betul pengakuan Pak Jenggot kalau penjeratan harimau itu untuk mengamankan warga. Pasalnya di tempat dia menangkap harimau tidak ada konflik. ‘’Motifnya jelas untuk perdagangan,’’ ujarnya. “Saya pernah ke rumahnya. Hidupnya cukup memprihatinkan. Tinggal di sebuah pondok di tepi jalan lintas,’’ paparnya.

Sementara itu, Yuyu, yang disebut-sebut tempat dia bekerja dulu di TNBT, secara terpisah, lewat telepon selulernya menyatakan memang cukup kenal dengan sosok pria bernama Pak Jenggot. ‘’Ya, saya tahu dia. Orang BKSDA di Inhu juga sangat kenal dengan dia. Dulu saya dikenalkan oleh mereka,’’ ujar Yuyu Arlan.

Yuyu menyebutkan, Pak Jenggot dikenal sebagai pawang. Dulu dia minta bantuan Pak Jenggot karena waktu itu ada Harimau Sumatera yang kena jerat.

‘’Saya minta bantuannya, agar bisa melepaskan harimau tersebut dari jerat. Tetapi ternyata saat Pak Jenggot datang harimaunya sudah lepas. Lalu saya minta dia mengamati jejak harimau itu, karena jerat harimau tersebut terbawa oleh harimau tersebut. Namun setelah enam bulan tidak jumpa juga,’’ papar Yuyu sembari menyebutkan kejadian itu sekitar tahun 2003.

Siapa sebenarnya Pak Jenggot, bagaimana sindikat penjual Harimau Sumatera di tanah Riau, masih belum banyak terungkap. Saat ini, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) sedang bekerja keras membuka tabir itu.

Berdasarkan keterangan Edi Susanto, Pak Jenggot ditangkap bersama sejumlah barang bukti satu lembar kulit harimau serta sejumlah tulang-belulang harimau. Diduga, kulit dan tulang itu siap dipasarkan ke pasar gelap di Riau.(muh)

dikutip dari : http://riaupos.com/berita.php?act=full&id=4040&kat=7

No comments:

Post a Comment