Banner Iklan

Responsive Ads Here

Saturday, 8 August 2009

Ramadan, PLN Padamkan Listrik 12 Jam Sehari

PEKANBARU (RP) - Janji manajemen PT PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau (WRKR) akan mengatasi krisis listrik di Provinsi Riau dengan solusi jangka pendek dalam satu bulan tampaknya tinggal janji. Belum genap satu bulan —dari janji yang disampaikan General Manager PT PLN WRKR Robert Aritonang di depan Wakil Gubernur Riau HR Mambang Mit pada 22 Juli lalu— pihak PLN sidah memastikan akan memberlakukan kembali pemadaman 12 jam selama bulan Ramadan.

“Kita mintalah kepada masyarakat memberikan tenggang waktu satu bulan untuk menindaklanjuti permasalahan ini. Saya atas nama PLN dalam hal ini meminta maaf kepada seluruh pelanggan PLN di Riau,’’ ujar Robert saat itu.

Memang, awal pekan ini Manajer Teknik PT PLNWRKR Ir M Shodiq MM mengatakan pemadaman akan berkurang pada Ramadan yakni maksimal enam jam dengan dua kali pemadaman dengan durasi per tiga jam. Bahkan berkurangnya pemadaman sudah berlangsung sejak pekan ini.Tapi kemarin, Manajer Sumber Daya Manusia Komunikasi Hukum dan Administrasi Suwandi Siregar mengatakan kondisi pemadaman mencapai 12 jam sehari akan berlaku di bulan Ramadan. Bila ini terjadi, umat muslim yang akan menjalankan ibadah malam Ramadan terancam dengan gelap gulita bila mendapat giliran pemadaman

“Kemungkinan akan kembali ke pemadaman awal. Maksimal pema­daman empat kali dalam seharinya atau kembali ke 12 jam pemadaman,’’ ujarnya.

Kabar buruk ini, lanjutnya, disebabkan elevasi debit air yang kurang di Danau Maninjau dan Singkarak. Kemarau panjang, membuat debit air kedua danau tersebut menyusut. Ditambah lagi pemasangan servomoog di PLTU Ombilin yang belum selesai.

Awalnya, PLN WRKR menargetkan pada Ramadan yang tinggal beberapa hari lagi, pemadaman akan berkurang menjadi dua kali sehari atau maksimal enam jam. Namun kemungkinan besar rencana tersebut batal. “Listrik sulit diprediksi, apalagi PLTA sangat tergantung pada keadaan alam,’’ tambahnya.

Menurutnya, jika kondisi normal pun tetap tak bisa di prediksi. Ia membantah jika PLN tak konsisten. Kondisi kelistrikan bersifat fluktuatif dan tak bisa direncanakan. Terlebih pembang­kit yang masih mengandalkan alam seperti PLTA.

“Pemadaman memang semakin panjang, namun bukan berarti tak konsisten. PLN terus berupaya agar kondisi kelistrikan tetap stabil,’’ ujarnya.

Ditambahkannya, PLN sudah berupaya maksimal dengan melakukan berbagai upaya seperti mengadakan hujan buatan dan terakhir pada Kamis (6/8) lalu melaksanakan Salat Istisqa di PLTA Koto Panjang. ‘’Bukan berarti pasrah, namun setiap usaha perlu diiringi doa,’’ ujarnya.

Hanya Hasilkan 23 MW
Sementara itu, kondisi elevasi debit air waduk PLTA Koto Panjang yang berada pada 75,85 meter hanya mampu menggerakkan satu turbin dari tiga turbin yang ada. Satu turbin tersebut kini hanya bisa menghasilkan rata-rata 23 sampai 24 MW atau 17 persen dari daya yang dihasilkan pada kondisi normal (daya maksimal pembangkit ini 114 MW).

Manajer PLTA Kotopanjang Imran Sembiring memaparkan bahwa untuk mencukupkan 114 MW, dengan sistem interkoneksi dipasok daya dari Sumbar yaitu dari Payakum­buh 1 sebanyak 48-49 MW dan Payakumbuh 2 sebanyak 41 MW. Secara umum di Riau, dalam kondisi normal daya mampu PLTA Panjang 114 MW, PLTG Teluk Lembu 2x16 MW atau 32 MW, PLTD Dumai 8 MW, PLTG Riau Power 18 MW, PLTD Teluk Lembu 7,5 MW. Dalam pemenuhan kebu­tuhan daya listrik di Riau digunakan sistem interkoneksi dengan Sumbar dan Sumsel.

‘’Pada saat kondisi seperti ini, sistem interkoneksi inilah yang sangat membantu dalam pemenuhan kebutuhan daya di Riau,’’ ujarnya.

Tim BPPT, Sunu Tikno yang sejak 16 Juli 2009 hingga 6 Agustus 2009 melakukan modifikasi cuaca di PLTA Kotopanjang mengatakan, jika mengandalkan Teknik Modifikasi Cuaca (TMC) saja pada saat musim kemarau, tidaklah terlalu efektif. Hal yang paling mutlak untuk dilakukan dalam menyelamatkan PLTA Koto Panjang agar bisa beroperasi lebih lama adalah reboisasi besar-besaran di 85 ribu hektare lahan di cacthment area PLTA Koto Panjang.

“Upaya reboisasi mutlak dilakukan di wilayah PLTA Koto Pan­jang ini, karena dengan kondisi iklim seperti sekarang ini, serta sedimentasi yang sudah melebihi ambang batas. Sebaiknya, pemerintah membuat program reboisasi di sekitar waduk PLTA dengan mena­nam pohon berakar tunggang,’’ ujarnya.

Kemudian ditambahkan lagi oleh Imran Sembiring bahwa untuk pengurangan pengaruh sedimentasi terhadap operasional waduk, maka perlu dilakukan relokasi keramba ke arah 3 kilometer lebih jauh dari tempat ribuan keramba yang ada saat ini.

“Kita semua mendukung pelaksanaan ekonomi kerakyatan dengan termanfaatkannya waduk PLTA ini oleh masyarakat, namun sepertinya memang perlu digeser sejauh tiga kilometer lagi dari lokasi yang ada sekarang,’’ ucapnya.

Bakal Ditandatangani Presiden
Sementara itu, desakan Pemprov Riau memasukan rencana pembangunan PLTU 2x100 Megawatt membuahkan hasil. Gubernur Riau (Gubri) HM Rusli Zainal mengatakan, dalam waktu satu bulan sudah ditanda­tangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Gubri menyatakan dalam waktu dekat, bersama dengan Bappenas, Menkeu RI dan Mensesneg, Pemprov Riau akan bertemu dengan dengan Presiden melakukan pembicaraan ini lebih lanjut.
Gubri berpendapat tidak ada masalah lagi dengan keinginan Riau memasukan PLTU 2x100 megawatt dalam crash program pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW di tingkat nasional. Artinya, Perpres Nomor 71 tahun 2006 akan direvisi.

“Surat permohonan kita sudah masuk sebagai bahan pertimbangan di Mensesneg. Tinggal menunggu waktu saja. Semoga segera mendapatkan respon dan ditandatangani Presiden RI,’’ ujar Gubri saat pembukaan Pacu Jalur, Kamis (6/8) lalu.

Kepala Bapeda Riau, Emrizal Pakis, menjelaskan, persoalan listrik jangka panjang di Provinsi Riau bisa diatasi bila Presiden menyetujui perubahan Perpres tersebut. Dia berharap, kondisi kelistrikan bisa berubah tahun 2010 mendatang. ‘’Riau sangat berharap pemerintah pusat bisa menyetujuinya,’’ ujarnya.(why/new/cr3)

dikutip dari: RiauPos Site dengan link http://riaupos.com/main/index.php?mib=berita.detail&id=20039

No comments:

Post a Comment