Banner Iklan

Responsive Ads Here

Thursday, 15 January 2009

One Man One Dollar To Save Palestina


LANGKAH PEMUDA MUSLIM DALAM MENJEMPUT SEJARAH KEBANGKITAN DAN KEMENANGAN ISLAM
(Stimulus Bumi Palestina Untuk Dunia Islam)

Oleh Wayan Sohib
(Bagian Anak KAMMI Bandung yang memiliki imajinasi untuk menghapus Israel dari peta dunia)

”Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al – Isra’ : 1)
Catatan Harian Bumi Palestina


Hari ini dan setiap hari palestina menangis, dari tahun 1948 palestina terus merasakan penderitaan fisik. Hal ini menggelorakan panggilan jihad di setiap jengkal tanah quds yang telah dikotori dan diinjak-injak kaki-kaki Yahudi. Bangunlah wahai Pemuda Islam dimanapun kalian berada, bangkitlah wahai anak Kholid bin Walid, bangkitlah wahai cucu Sa’ad bin Abi Waqash, bangkitlah dan berteguhlah, sesungguhnya setiap cita-cita itu berharga. Batu-batu intifadhoh telah disiapkan sejak lama. 
”Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu, jika mereka sanggup. Barang siapa murtad diantara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah : 217)

”Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan pasti akan kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, ”Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.” Yang demikian itu karena diantara mereka terdapat para pendeta dan para rahib, (juga) karena mereka tidak menyombongkan diri.” (QS. Al-Maidah : 82) 

Allah telah menetapkan pertempuran antara haq dan bathil, untuk membedakan antara yang baik dari yang buruk, antara haq dari bathil hingga hari kiamat. 

Musibah dan ancaman serta kehinaan yang terjadi pada umat ini merupakan kabar gembira akan terbitnya fajar baru. Maka dari kegelapan itu akan terpancar cahaya. Siapakah yang ingin menutup arsip pertempuran Islam – Yahudi, antara mukmin dan kafir, dengan tipuan bernama ”Perdamaian”. Apa yang terjadi di bumi Aqsha? Kera-kera itu telah mengotori masjid, batas-batas larangan Masjidil Aqsha diinjak-injak dan keluarga-keluarga si mati menangis di halamannya, sedang pembunuhnya justru tertawa. Apakah kita telah lupa pembantaian Deer Yasin dan Sabra Satila? Mereka merobek-robek Al-Qur’an dan mereka jadikan kertasnya sebagai pembalut darah wanita, bahkan dijadikan sebagai tisu untuk mengusap kotoran orang Yahudi. Apa yang terjadi pada hari ini dan yang lalu bukan hanya saling lempar dengan batu-batu juga bukan dengan peluru-peluru karet, tapi serangan ganas terhadap orang-orang miskin dan rakyat yang tidak berdosa dengan tank-tank. Pesawat tempur dan pengepungan dengan senjata-senjata tercanggih didunia. Berbagai konferensi internasional dan genjatan senjata dan atau upaya perdamaian lainnya yang dilakukan Israel selalu dengan mudah dilanggar dengan terus melakukan agresi. Sehingga untuk mencapai perdamaian yang dirasakan rakyat palestina hanya dengan jalan perlawanan dan kemenangan. 

”Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, ”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al Baqarah : 120) 

Wahai tatanan dunia baru, yang mendalangi perundingan-perundingan perdamaian, yang akan tetapi semua itu adalah budaya tipuan setan berbentuk manusia. Tapi mana komentarmu.. mana janji-janjimu.. Kaum Muslimin di Palestina sudah bosan dengan bisunya pemimpin-pemimpin Arab yang sangat ketakutan, bosan dengan alasan-alasan menghindar dari membela Masjidil Aqsha. Maka dengan kebohongan-kebohongan tersebut pejuang kemerdekaan palestina putuskan untuk melanjutkan sendiri perjuangan itu. Tetapi dengan warna baru, warna darah. Setiap hari bayi-bayi palestina terjajah, hari raya demi hari raya terus berganti dan bayi-bayi muslim terus terlahir, para syuhada berguguran silih berganti, dan jeruji besi masih penuh dengan pemuda Muslim palestina, dalam sel sempit yang bahkan tidak layak untuk dihuni budak. Kapan hari kemenangan dan kehancuran penjara-penjara itu untuk memanggil kawan pejuang Islam untuk berjuang kembali didepan tank-tank Zionis Yahudi, yang juga kepulangan mereka sangat diharapkan oleh keluarga-keluarga mereka.

Dalam benak para pejuang palestina tidak ada kata dan tekad kecuali Perlawanan, langkah mati merupakan kerinduan terbesar Pemuda Muslim Palestina sebagai cara untuk melawan Yahudi, mereka menginginkan agar segera bertemu dengan Rabbnya dan bersama dengan Rasulullah Saw dan para sahabatnya, juga Yahya Ayyash, Izzudin Al-Qassam serta para syuhada’ lainnya di Syurga. 

”Karena itu, hendaklah orang-orang yang menjual kehidupan dunia untuk (kehidupan) akhirat berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka akan kami berikan pahala yang besar kepadanya.” (QS. An-Nisa : 74 – 76) 

Allahu Akbar terdengar dimedan pertempuran, Allahu Akbar menggetarkan jiwa musuh-musuh. Demi Allah.. Demi Allah darah Pemuda Islam tidak akan begitu saja berlalu, jika laba-laba saja sanggup berperang demi mempertahankan sarang mereka, lalu mengapa kita tidak sudi berkorban mempertahankan tanah suci Agama sendiri. Yahudi boleh mengulang usaha perdamaian, tetapi dengan warna baru, yaitu warna darah dan karomah serta tekad para pecinta Surga.

”Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” (QS. Al-Kahfi : 13)

Sejak dahulu kebiasaan pemuda Muslim palestina bangun setiap pagi, bersama laungan adzan subuh dan kicauan burung pagi. Sebelum cahaya pagi menyengat mereka pergi ke sekolah, tas-tas ransel mereka bagaikan kupu-kupu yang hinggap di punggung mereka, dan di siang hari mereka kembali ke alam indah mereka, dan ketika hari mulai gelap, mereka berbaring dibuai mimpi hingga matahari terbit di hari esok. Kemudian Yahudi bersenjata lengkap datang menyerang mereka, mencuri ketenangan dan kenyamanan tidur mereka dengan membawa kehancuran dan pembunuhan serta hanya bisa bertutur dengan bahasa peluru. Mereka Yahudi mengepung dan membunuh burung-burung tak berdosa dan menghancurkan sekolah-sekolah mereka, mencabut pohon-pohon dan merusak taman bunga yang indah, Zionis Israel datang membawa kematian. Tentara-tentara itu datang membawa kedengkian di malam hari, mereka hancurkan rumah-rumah penduduk. Semua anak-anak hanya bisa menonton hancurnya rumah-rumah mereka, apa yang ada di sekitar mereka menjadi puing-puing, ranjang-ranjang mereka yang ditiduri pada malam hari itu, kitab-kitab Al-Qur’an mereka, tas-tas sekolah mereka, buku-buku mereka, mainan mereka, sepeda mereka, foto-foto mereka, kenang-kenangan mereka dirumahnya, pohon-pohon rindang dekat pagar rumah mereka. Impian mereka telah hancur, mereka digigit kedinginan sedang mereka sibuk mencari barang-barang itu, segalanya telah berubah menjadi puing, termasuk puing dan sisa tubuh bayi tetangga mereka. Bagaimana anak-anak itu dapat menafsirkan kerusakan yang demikian berat? Dan bahasa apa yang dapat menceritakan sisa puing-puing itu? Tetapi mereka hanyalah anak-anak yang tak berdosa yang harus menghadapi kedengkian Yahudi. Anak-anak itu menyaksikan sendiri proses terjadinya reruntuhan puing-puing itu yang diratakan dengan Buldozer, juga menyaksikan sebagian teman-temannya yang dibantai. 

Imajinasi Pemuda Islam

Akan tetapi anak-anak itu meyakini akan mampu membalas kedzaliman Yahudi, mereka hari ini membutuhkan senjata yang layak untuk bertempur sebagai penyeimbang dilapangan dengan Yahudi dari segi persenjataan fisik, walau pun tanpa senjata anak-anak itu bilang yakin akan tetap menang. Karena sekarang anak-anak itu telah membuka matanya bersama sinaran matahari pagi dan sebelum terik matahari menyengat, mereka bangkit untuk mempertahankan bumi mereka dengan menghambat serangan-serangan Yahudi yang selalu menginginkan kematian mereka, mereka berdiri menghadang Buldozer dan tank-tank Yahudi yang akan melahap rumah mereka, walaupun mereka dikepung, pemuda-pemuda itu datang secara sukarela, mereka tahu bahwa perjalanan panjang ini harus bermula dengan takbir dan batu. Mereka tidak memiliki satu senjatapun kecuali Iman mereka kepada Allah Swt yang mengamanahkan bumi Al-Quds kepada mereka yang pernah disirami darah segar para pejuang sejati seperti Umar bin Khattab dan Shalahuddin Al-Ayyubi. 

”Dan mereka menyiksa orang-orang mukmin itu hanya karena (orang-orang mukmin itu) beriman kepada Allah yang Maha Perkasa, Maha Terpuji. Yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Buruj : 8-9) 

Suatu Impian besar pemuda-pemuda itu ingin mengibarkan bendera Lailahailallah disekitar Al-Quds, dilapangan Yafa, diseluruh penjuru jalan ’Akka’, dan setiap tanah bumi Palestina. Dalam diri mereka sebetulnya ketika berada pada medan peperangan merupakan tempat yang paling bisa mendekatkan mereka pada Allah, beribadah bersama seorang imam dalam jama’ah dan do’a yang tak terputus, sedang peluru Yahudi tidak memahami makna ibadah dihadapan Allah. Berperang seakan-akan menjadi kenikmatan tersendiri bagi mereka sebagai mata pencaharian atas jawaban Aqidah mereka dalam mempertahankan bumi suci palestina yang disucikan. Jarak perang dengan modal batu dengan tank-tank yang sampai ada yang lima meter merupakan pemandangan Aqidah mereka yang menimbulkan banyak pertanyaan di seluruh dunia yang terkhusus pada diri tentara Israel tentang apa sebetulnya yang dimiliki anak muda itu sehingga memiliki keberanian dan tekad kuat untuk melakukan perlawanan. Ternyata suasana dialog tentang Al-Qur’an dan penguasaan Islam serta kehidupan malam dengan shalat dan kekuatan ibadah menghubungkan diri dengan Allah adalah kekuatannya. Dan hal ini yang membuat gentar musuh dalam medan pertempuran yang tidak rasional ketika hanya dengan batu dan ketapel. Tapi itulah pemandangannya, karena anak-anak itu memiliki cita-cita ingin memiliki senjata untuk melawan dan merebut hak mereka atas tanah palestina, mereka memerlukan senjata, sekali lagi memerlukan ”senjata”. Dan cita-cita terbesar mereka adalah Syahid fisabilillah, orang tua mereka pun bahagia ketika anak-anaknya Syahid dimedan pertempuran melawan thagut.

Dalam benak setiap keluarga palestina dan para pejuang al-Haq terdapat kekuatan harapan, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda : ”Sesungguhnya seorang syahid itu diberi tujuh keistimewaan, diampuni dosa-dosanya bersama tetesan darah yang pertama. Dia dapat melihat tempatnya di surga, dia diselamatkan dari adzab kubur, dia selamat dari ketakutan yang besar (di hari hisab). Dia dipakaikan mahkota kebesaran, sebuah permatanya lebih baik dari dunia seisinya, dia dinikahkan dengan 72 orang bidadari, dan dia diberi ijin untuk mensyafaati 70 orang keluarganya.” (Shahih, HR. Tirmidzi). 

Dan mereka semuanya berkeyakinan bahwa Allah akan selalu mendatangkan bala bantuan yang tidak terduga-duga untuk memenangkan dan meninggikan Izzah Islam wal Muslimin. Kemudian siapakah yang mengajari anak-anak itu bahwa bumi ini milik Allah dan ia lebih berharga dari rohnya sendiri, dan siapakah yang memahami kata-kata ini pasti akan mengukirkan sejarah dengan darahnya.

”Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan).” (QS. Al Anfal : 60) 

”Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sungguh Allah maha mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al Anfal : 17) 

Fenomena krusial ini memiliki tinta sejarah tersendiri dalam fajar kebangkitan Islam, yang telah dan selalu merekonstruksi ulang dengan opini terbesar dalam memanggil seluruh Umat Muslim di Dunia untuk bergerak melakukan pembelaan terhadap Al-Quds yang selalu memanggil jiwa-jiwa Muslim untuk menyelamatkan aset terbesar Umat Islam. Karena memang sudah saatnya Islam menunjukan taringnya sebagai Rahmatan lil alamin dengan jihad keras kepada kaum Yahudi dan sekutu-sekutunya untuk menyelamatkan Islam dari fitnah-fitnah yang lahir. Saat ini dan terus setiap waktu bahwa Al-Aqsha menunggu pemikiran, ruh dan jasad kaum Muslimin di dunia, dimana jumlah kaum Muslimin sebanyak 1,5 Milyar jiwa tidak hanya menjadi simbol kuantitas saja, akan tetapi menjadi lambang Iman dan Ukhuwah dalam memenangkan setiap himpitan tauhid. Hanya ada satu kata untuk Yahudi, Musnahkan..! 

Menjemput Kemerdekaan Palestina

Secara historis bahwa palestina sebetulnya bertoleransi dan mau bertetangga dengan penduduk Israel yang beragama Yahudi, walaupun pada kenyataannya bahwa Israel dari dulu tidak memiliki wilayah teritorial sebagai komunitas negara. Akan tetapi bangsa israel memiliki misi menjarah tanah dan merusak hak-hak penduduk asli palestina serta sampai penodaan dan pengrusakan terhadap Masjidil Aqsha yang merupakan kiblat pertama umat Islam. Tentu menjadi suatu kelayakan respon dengan kemunculan Intifadah dan organisasi Hamas atas pelanggaran Israel terhadap hak hidup layak dan beribadah. Upaya pengrusakan dari dalam pun dilakukan Israel melalui kerjasama dengan Amerika yaitu membentuk Fatah. Banyak setelahnya terjadi ketidakadilan yang diterima palestina dari ulahnya PBB dan palestina yang mengesampingkan hak-haknya yang berbeda kecepatan responsifnya dengan pelanggaran yang terjadi di negara lain. Sebagai manusia, sebagai umat Muslim menjadi keniscayaan bagi yang membaca tulisan ini untuk bergerak melakukan yang terbaik. Karena sudah seharusnya saudara semuslim yang disakiti kita pun merasakan sakit yang sama dan membebaskan atas penodaan kiblat pertama umat Islam, hal ini juga merupakan kejahatan dan pembantaian yang tidak manusiawi dan melanggar piagam PBB, terlebih kita adalah Warga Negara Indonesia yang memiliki UUD 1945 yang dalam pembukaannya mengatakan bahwa penjajahan harus dihapuskan dan ikut serta dalam menjaga ketertiban dunia.

Kontinyuitas Gerakan harus dilakukan Umat Islam diseluruh dunia. Pertama, terus mengirimkan bantuan makanan dan obat-obatan lewat sumbangan dana melalui lembaga atau komunitas relawan palestina dan aksi-aksi demonstrasi diberbagai daerah untuk penggalangan dana dan motivasi moral dalam mengobarkan semangat juang negeri palestina. Kedua, Kontribusi relawan perang terlatih atau pasukan perdamaian dan persenjataannya yang secara resmi harus dilakukan Indonesia tanpa bantuan PBB yang memang belum bangun dari tidur nyenyaknya. Ketiga, Indonesia harus mendesak OKI dan Liga Arab sebagai lembaga yang mewakili negara Islam di dunia untuk menghentikan agresi Israel selamanya dan membantu pemulihan palestina. Keempat, mendesak Mahkamah Internasional untuk mengadili Israel sebagai penjahat perang. Kelima, memboikot produk-produk Israel dan sekutunya Amerika untuk mengurangi aset perang zionis tersebut dan mendukung MUI untuk fatwa haram produk tersebut. Keenam, hancur dan hapuskan Israel dari peta dunia untuk kembali pada awalnya dengan tidak memiliki wilayah negara. Dunia – Palestina We Fight Together, Dunia – Israel We Fight Each Other!
Referensi: Dari fenomena konflik secara teoritis dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits serta realitas keseharian bumi palestina, juga pernyataan sikap dari berbagai aksi demonstrasi di Indonesia dan dunia.

No comments:

Post a Comment